Sore itu, pucuk rumput bergetaran dalam sergapan angin yang mendesah,
kaki-kaki hujan yang runcing menyentuhkan ujungnya ke bumi,
Bulan mabuk dalam kursi singgasananya,
selusin malaikat telah turun kala gerimis,
Tujuh pasang mata peri memandangku
Mereka semua heran melihatku yang terus mendatangimu,
dan pada lembar-lembar waktu kuterjemahkan napas parfummu satu-satu..
Angin berhembus membelai-belai tubuhku,
Semangat cintaku yang kuat bagai seribu tangan gaib yang menyebarkan seribu jaring menyergap hatiku yang selalu tersenyum kepadamu,
Kemudian, kutulis wajahmu dalam tarian tinta yang tergores dalam buku merah jambu yang terus kubawa keluar-masuk kota-kota yang tak mengenaliku..
Karena cintamu, kutepis segala yang menggoda,
Sungguh, bagiku hanya kaulah yang menantiku di ujung peleburan mimpi..
Maret 3, 2008 pukul 5:54 am
Cie….Cie….Cie….
Cayank bgt sich ma ciendhu…. Sampe ga mau pisah sesenti aza. Btw poem km boleh jg. Klo aq kasih ke ‘DIA’ kira2 reaksinya gmn, yaa?